Minggu, 20 Oktober 2019

KIAT AGAR TETAP KUAT DALAM MENGHADAPI UJIAN

*KIAT AGAR TETAP KUAT*
*DALAM MENGHADAPI UJIAN*

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah.

Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

*1. Mengimani takdir ilahi..*

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

_“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”_

(HR. Muslim no.2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

_“Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.”_

(Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal.94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H)

*2. Yakinlah, ada hikmah di balik cobaan..*

Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (١١٥) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (١١٦)
       
_“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.”_

(QS. Al Mu’minun: 115-116)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (٣٨) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ (٣٩)

_“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.”_

(QS. Ad Dukhan: 38-39)

*3. Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa..*

Ingatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

_“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”_

(Shahih Al Jami’ no.5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh yang lain disebutkan:

مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

_“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”_

(Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal.249, Mawqi’ Al Waroq)

*4. Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji..*

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

_“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:_

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

_“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”_

(HR. Tirmidzi no.2398, Ibnu Majah no.4024, Ad Darimi no.2783, Ahmad 1/185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no.3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

*5. Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan..*

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

_“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”_

(QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

_“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”_

(QS. Alam Nasyroh: 6)

Qotadah rahimahullah mengatakan:

Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan:

لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

_“Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”_

(Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath Thobari, 24/496, Dar Hijr)

*6. Hadapilah cobaan dengan bersabar..*

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

_“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”_

(Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal.250, Mawqi’ Al Waroq)

Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.

(Lihat ‘Uddatush Shobirin wa Zakhirotusy Syakirin,  Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal.10, Dar At Turots, cetakan pertama, tahun 1410 H)

*7. Bersabarlah di awal musibah..*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

_“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”_

(HR. Bukhari no.1283, dari Anas bin Malik)

Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

*8. Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar..*

Ingatlah janji Allah Ta'ala:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”_

(QS. Az Zumar: 10)

Al Auza’i rahimahullah mengatakan:

_“Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.”_

As Sudi rahimahullah mengatakan:

_“Balasan orang yang bersabar adalah surga.”_

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah)

*9. Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un …”*

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

_Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik)”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik._

_Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam._

(HR. Muslim no.918)

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

*10. Introspeksi diri..*

Musibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

_“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”_

(QS. Asy Syura: 30)

Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/280, Muassasah Quthubah)

Ibnu ‘Abbas rahimahullah mengatakan:

_“Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”_

(Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath Thobari, 20/514)

Berkata Assyaikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Alu Bassam rahimahullah:

فإن العبد مهما افتقر فسيجد من هو أفقر منه، ومهما مرض فسيرى من هو أشد منه مرضا، وإن كان ذا عاهة، فسيجد من هو أعظم منه عاهة وأشد بلاء، فإذا أمعن النظر، فسيجد أن الله تعالى فضله على كثير ممن خلق تفضيلا.

_"Sesungguhnya seorang hamba sefakir apapun dia, maka dia mesti akan menjumpai orang yang lebih fakir darinya, sakit apapun yang dideritanya, maka dia mesti akan melihat orang yang lebih parah sakitnya dari dia, jika dia memiliki cacat pada fisiknya, maka dia mesti akan mendapati orang yang lebih cacat dan lebih besar musibahnya dari dia.._

_Maka apabila dia benar-benar mencermati hal ini, dia akan merasakan bahwa Allah ta'ala telah memberikan keutamaan yang besar padanya dari kebanyakan makhluk.."_

(Taudhihul ahkam min bulughil maram jilid 7 hal.328)

Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah.

*****

📲 *Artikel:*
https://rumaysho.com/841-10-kiat-tegar-menghadapi-cobaan.html
...

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini dan tidak mengubah tulisan, semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
══════ ❁✿❁ ══════

📜◎❅ *CHANNEL MEDIA DAKWAH* ❅◎📜

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

🔄 YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCB9ABjFRN3ID-5h3TSKyRBQ

🌐 Telegram : t.me/MediaDakwah1

📷 Instagram : https://instagram.com/media_dakwah100?utm_source=ig_profile_share&igshid=i7xqlk6xz4ig

📱 WhatSapp :  https://wa.me/6282220000672  (Admin)

︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼

📚 Kurikulum 8, Adab, Petuah Ulama, Tazkiyatun Nufus, Nasehat, Dll.
•┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈•

*📭 Share yuk*
*Semoga saudara-saudara kita mendapatkan faedah*

Rabu, 02 Oktober 2019

JANGANLAH PANJANG ANGAN- ANGAN

*JANGANLAH..*
*PANJANG ANGAN-ANGAN*

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

Hasan Al-Bashir rahimahullah berkata:

_”Tidaklah seorang hamba berpanjang angan-angan melainkan akan merusak amalannya”_

(Al Bayan wat Tabyin, jilid III, hal.74)

Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:

_”Keberuntungan menghampiri orang yang tidak mencarinya, tamak menjanjikan sesuatu yang sulit dipenuhi, angan-angan membuat buta mata orang cerdik dan siapa yang panjang angan-angan pasti menuai amal yang buruk”_

(Faraidul Kalam li Khulafail Kiram, Qashim Ashar, hal.345)

Demikianlah untaian nasihat orang mulia para imam kaum mukminin betapa buruknya akibat panjang angan-angan. Sebuah penyakit kronis yang sering menimpa orang yang lemah iman dan tipisnya rasa takut pada Allah Ta’ala. Terlebih lagi setan laknatullah terus memprovokasi otak dan hati kita untuk merasakan kelezatan dunia hingga ia seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi.

Pikirannya disibukkan untuk merancang masa depan yang terlalu jauh seperti harus kuliah, lantas bekerja, kemudian memburu karir hingga ke puncak, memiliki fasilitas hidup seperti rumah mewah, perabot, mobil, kemudian barulah menikah.

Nyaris detik menit dan hari-harinya berputar sekitar dunia tanpa diiringi bagaimana merancang kehidupan dunia dan akhirat dengan berpedoman pada perintah-Nya.

Saat dikatakan:

_“Segeralah mengejar ketinggalanmu dalam meraih nikmat dan indahnya beramal shalih”._

Mereka berkata:

_“Usiaku masih begitu muda harus dinikmati, nanti saja beribadah ketika menjelang senja”._

Tapi siapa yang bisa menjamin umur kita panjang?
Setan selalu membisikkan manusia untuk menunda-nunda beramal shalih. Berbagai dalih seolah membuat para pencinta dunia terpesona gebyar fatamorgana yang sejatinya sangat membinasakan.

Lantas apa kiat taktis agar tidak terjerumus pada panjang dengan angan?

*1. Menyadari hakikat dunia..*

Dunia hanyalah tempat pesinggahan sementara, ia ibarat mimpi sedangkan akhirat adalah kepastian dan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:

_”Sekiranya dunia itu emas yang segera fana dan akhirat seperti tembikar yang akan kekal maka seyogyanya engkau memiliki tembikar yang kekal daripada emas yang akan segera fana._

_Lantas, bagaimana sekiranya dunia itu sebuah tembikar yang akan segera fana, sedangkan akhirat adalah emas yang kekal?”_

(Mukasyafatul Qulub, hal.127)

Al Hurawi rahimahullah berkata:

_”Tidak terkumpul kecintaan kepada dunia dan kecintaan Allah serta akhirat. Kedua kecintaan ini tidak akan bersemayam dalam satu tempat namun salah satu dari keduanya pasti akan mengusir yang lainnya dan akan menguasai tempat tersebut._

_Sesungguhnya jiwa manusia itu satu. Bila ia disibukkan dengan sesuatu maka ia akan terputus dari tandingannya.”_

(Faidhul Qadir, Abdurrauf Al Munawi, Beirut, Darul Nahdhah al Haditsah, Jilid III, hal.396)

*2. Menjadikan akhirat sebagai obsesi terbesar..*

Panjang angan-angan terhadap perkara yang berdimensi dunia hingga merampas hidup yang bernilai ukhrawi bisa ditepis dengan selalu menghadirkan kebahagiaan hidup akhirat kelak di surga-Nya.

Mengejar kehidupan akhirat merupakan tujuan asasi dan mengambil dunia sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam hadis dikatakan:

_”Barangsiapa obsesinya akhirat maka Allah akan mengumpulkan urusannya yang terserak, menjadikannya kecukupannya dalam hati dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk._

_Barangsiapa obsesinya adalah dunia maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakiran didepan matanya dan ia hanya akan mendapatkan dunia apa yang telah ditentukan oleh Allah untuknya.”_

(HR. Ibnu Majah, dari Zaid bin Tsabit. Dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’ Ash Shoghir no.6392)

*3. Mengingat kematian..*

Kematian adalah nasihat bagi orang merindukan akhirat pemutus segala nikmat. Betapa banyak angan-angan yang hancur karena ajal telah tiba. Beliau berwasiat:

_Rasulullah pernah membuat sebuah garis seraya bersabda, ”Ini adalah manusia lalu beliau membuat garis lagi di sampingnya seraya berkata, ”Ini adalah ajalnya”. Lalu beliau membuat garis lain yang jauh dari garis sebelumnya serta bersabda, ”Ini adalah angan-angannya. ”Ketika ia berada seperti itu tiba-tiba datanglah garis yang paling dekat (ajalnya).”_

(HR. Bukhari)

Sebagai orang beriman tentunya kita berobsesi meraih kecintaan Allah Ta’ala menjadi Muttaqin  (orang yang bertaqwa), dihindarkan dari azab kubur diselamatkan dari neraka dan menjadi penghuni surga.

Ini bukan sekedar angan-angan semu namun kita harus beramal, bersemangat, meraih kemuliaan dan menapaki jalan menuju cita-cita yang diridhai-Nya.

Semoga Allah memudahkannya.
Amiiin..

*****

📲 *Artikel:*
https://muslimah.or.id/10575-petaka-panjang-angan-angan.html
...

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini dan tidak mengubah tulisan, semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
══════ ❁✿❁ ══════

📜◎❅ *CHANNEL MEDIA DAKWAH* ❅◎📜

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

🔄 YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCB9ABjFRN3ID-5h3TSKyRBQ

🌐 Telegram : t.me/MediaDakwah1

📷 Instagram : https://instagram.com/media_dakwah100?utm_source=ig_profile_share&igshid=i7xqlk6xz4ig

📱 WhatSapp :  https://wa.me/6282220000672  (Admin)

︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼

📚 Kurikulum 8, Adab, Petuah Ulama, Tazkiyatun Nufus, Nasehat, Dll.
•┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈•

*📭 Share yuk*
*Semoga saudara-saudara kita mendapatkan faedah*

SUNNAH-SUNNAH PERGI MENUJUA MASJID

SUNNAH-SUNNAH PERGI MENUJUA MASJID

Oleh
Syaikh Khalid al Husainan





[a]. Bersegera Menuju Masjid
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba dan seandainya mereka mengetahui keutamaan sepertiga malam yang awal dan shubuh niscaya mereka akan datang kepadaKu walaupun dengan merangkak” [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437]

Imam An-Nawawy berkata: “At-Tahjir adalah bersegera menuju shalat”

[b]. Doa Pergi Menuju Masjid.

"Artinya : Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya dari mukaku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku, Ya Allah berikanlah aku cahaya” [Hadits Riwayat. Bukhary 11/116 no. 6316 dan Muslim no. 763 ]

[c]. Berjalan Menuju Masjid Dengan Tenang Dan Berwibawa
Rasuulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila kalian telah mendengar iqomah maka berjalanlah kalian menuju masjid untuk sholat dengan ketenangan dan kewibawaan.” [Hadits Riwayat Bukhari no 636 dan 908 Sedangkan Muslim tidak meriwayatkan]

"As-Sakinah " artinya perlahan dalam berjalan dan menjauhkan diri dari bersendau gurau

"Al-Waqoru" artinya menundukkan pandangan, merendahkan suara dan tidak menoleh-noleh.

[d]. Pergi Menuju Masjid Dengan Berjalan Kaki
Para ulama telah menjelaskan bahwa berjalan kaki ke masjid dengan tenang tanpa tergesa-gesa mengandung banyak sekali kebaikan bagi seorang pejalan kaki. Hal ini berdasarkan nash-nash syari’at yang menunjukkan tentang keutamaan memperbanyak langkah menuju masjid.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

“Artinya : Maukah kalian aku tunjukkan apa-apa yang menyebabkan Allah menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian.” Mereka berkata: “Ya, wahai Rasul”, kemudian Rasul menyebutkan salah satunya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. [Hadits Riwayat Muslim no. 251]

[e] Berdo’a Ketika Masuk Masjid
Doa masuk masjid yaitu :

"Artinya : Ya Allah, bukalah pintu rahmat-Mu untukku

Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Apabila diantara kalian ada yang masuk masjid maka bersholawatlah kalian atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengucapkan doa: “Ya Allah bukalah pintu rahmat-Mu untukku” [Hadits Riwayat Muslim 1/494 no. 713, Abu Dawud no. 465, Nasaa’I no.728, Ibnu Majah no. 772.]

[f]. Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Masuk Masjid
Berdasarkan perkataan shahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu:

"Artinya : Termasuk Sunnah, apabila engkau masuk masjid, untuk mendahulukan kakimu yang kanan dan apabila engkau keluar, dahulukan kaki kirimu. [Hadits Riwayat Hakim 1/475, ia berkata : Shahih berdasarkan syarat Muslim" Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi]

[g]. Memprioritaskan Menempati Shaff Yang Pertama.

“Artinya : Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-…” [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437, Pent]

[h]. Berdoa Ketika Keluar Masjid
Jika keluar dari masjid, hendaklah mengucapkan

"Artinya : Ya Allah, aku mohon kepadamu karuniamu. [Hadits Riwayat Muslim 713 dan Abu Dawud 465]

Dan pada riwayat An-Nasa'i terdapat tambahan agar bershalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

[i]. Mendahulukan kaki kiri ketika keluar dari Masjid sebagaimana perkataan shahabat Anas bin Malik ketika menyebutkan tentang keutamaan mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid.

[j]. Shalat Tahiyatul Masjid
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah shalat dua rakaat sebelum ia duduk” [Hadits Riwayat Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714]

Imam Syafi’i berkata, “Shalat Tahiyatul Masjid disyariatkan kecuali pada waktu yang dilarang.” [1]

Al Hafidz Ibnu Hajar, “Shalat Tahiyatul Masjid adalah sunnah hukumnya menurut ijma dari ahli fatawa (ulama).”

Praktek sunnah-sunnah tersebut terjadi berulangkali, dilakukan oleh seorang muslim ketika hendak bepergian menuju masjid untuk shalat lima waktu, apabila dikumpulkan maka akan didapat sebanyak 50 sunnah.

[Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]
_________
Foote Note
[1]. Waktu yang terlarang untuk melakukan shalat sunnah tathawwu’ ada tiga. Berdasarkan hadits dari Uqbah bin Amir Al Juhani Radhiyallahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: “Ada tiga waktu yang kami dilarang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk shalat pada waktu tersebut dan juga untuk menguburkan mayyit; ketika matahari persis terbit, hingga meninggi; ketika matahari tepat di atas kepala, hingga condong; dan manakala matahari mulai tenggelam, hingga betul-betul tenggelam. [Hadits Riwayat. Muslim, dalam Kitab Shalatul Musafirin, bab waktu-waktu yang terlarang. No. 831).


Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1423&bagian=0

Sabar dan Ihtisab-lah (Mengharap Pahala di Sisi Allah)

Sabar dan Ihtisab-lah (Mengharap Pahala di Sisi Allah)

 UCAPAN : ْاصْبِرْ و احْتَسِب

(SABAR DAN IHTISAB-LAH!)


۞ 🌱صيــد الفوائــد🌱 ۞:

*(( إصبر واحـتـســـــب  ))*

*الصبر عرفناه فما معنى احتسب ؟*
قال الشيخ العلامة الفقيه محمد بن صالح العثيمين -رحمة الله عليه -:

⬅️ إن المصائب إذا قابلها الإنسان بالصبر دون احتساب الأجر ، صارت كفارة لذنوبه
⬅️ وإن صبر مع احتساب الأجر ، صارت بالإضافة إلى تكفير الذنوب أجرا وثوابا

*ومعنى الاحتساب ؟*
 أن يعتقد في نفسه أن هذا الصبر سوف يثاب عليه فيحسن الظن بالله فيعطيه الله عز وجل ما ظنه به  . اﻫـ

【من تعليق الشيخ رحمه الله على صحيح مسلم【صـ342】


*PERTANYAAN:*
*Sabar kita telah mengetahui lalu apa makna ihtisab-lah?*

Asy-Syaikh Al-'Allaamah al-Faqiih Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin rahimahullah menjawab:

"Sesungguhnya berbagai musibah andai seseorang menghadapinya dengan sabar TANPA IHTISAB dari pahala maka musibah itu (hanya) menjadi kaffaroh(penebus) bagi dosa-dosa(kecilnya).

Dan apabila ia bersabar DISERTAI IHTISAB,  musibah itu selain penebus dosa juga ditambah dengan mendapat ganjaran dan pahala.

*Adapun makna IHTISAB yaitu :*

 أن يعتقد في نفسه أن هذا الصبر سوف يثاب عليه فيحسن الظن بالله فيعطيه الله عز وجل ما ظنه به  . اﻫـ

Seseorang berkeyakinan di dalam dirinya bahwa kesabaran ini akan diberi pahala sehingga ia berbaik sangka kepada Allah. Lalu Allah 'Azza wa Jalla memberi kepadanya sesuai persangkaannya (hamba itu) kepada-Nya.

*[Ta'liq Asy-Syaikh rahimahullah terhadap Shahih Muslim, hal. 342].*

📇 Sumber:
🌱 صــيـد الــفــوائــد الــســلــفــيـة 🌱
ــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
💾 Telegram: bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net

MENDULANG MANFAAT SEDEKAH

Mendulang Manfaat Sedekah



Keutamaan Sedekah Dalam Islam

Keutamaan Sedekah Dalam Islam dan Manfaatnya

Sedekah merupakan perilaku terpuji yang sangat disukai oleh Allah SWT dan sangat dianjurkan bagi kita yang mempunyai rejeki lebih. Harta yang kita miliki sebagiannya adalah hak orang-orang yang tidak mampu, jadi kita harus mengeluarkan hak mereka agar harta kita menjadi bersih. Karena dengan bersedekah akan membersihkan harta-harta kita.

Rasulullan Saw sudah mengajarkan kepada umat-umatnya untuk mengutamakan bersedekah. Sedekah akan membuat hidup menjadi barokah. Allah juga berjanji bahwa bersedekah tidak membuat kita menjadi miskin.

Justru Allah akan melipat gandakan harta yang sudah kita sedekahkan. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai sedekah dalam islam. Untuk mengetahuinya lebih dalam lagi, yuk kita simak bersama-sama!

1. Bersedakah Merupakan Kewajiban Semua Umat Muslim Khususnya Bagi Mereka Yang Mampu

Perintah mengenai sedekah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat itu bukanlah suatu kesempurnaan, tapi sesungguhnya yang sempurna adalah orang yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi-Nya, serta memberikanharta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, orang yang meminta-minta dan membebaskan hamba sahaya, dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat.” (QS. Al-Baqarah : 177)

“Dan berikanlah infak di jalan Allah dan janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah : 195)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)

“Wahai orang yang beriman, berinfaklah kamu atas sebagian rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli lagi dan tidak ada lagi persahabatan serta syafa’at kecuali atas izin Allah.” (QS. Al-Baqarah : 254)

2. Bersedekah Membuat Harta Kita Menjadi Lebih Barokah

Dengan melakukan sedekah diiringi dengan hai yang ikhlas, akan membuat harta kita menjadi lebih berkah. Jangan takut miskin karena bersedekah. Justru Allah menjanjikan kepada para umatnya balasan yang lebih atas sedekah yang mereka keluarkan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262)

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 264)

MATI SU'UL KHATIMAH

*MATI SU'UL KHOTIMAH*

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (husnul khotimah), bukan pada yang buruk (su’ul khotimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya.

Su’ul khotimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.

Saudaraku..
Perlu kiranya kita tahu bahwa su’ul khotimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqomah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqod (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.

Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek..

Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia sehingga lupa akan akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya..

*•• Ada* seorang pedagang kain yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “laa ilaha illallah”, namun yang ia sebut adalah, “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat laa ilaha illallah.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

_“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”_

(HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no.1621)

*••Ada* juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “laa ilaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan, “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “skak”. Wallahul musta’an.

*••Ada* pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, laa ilaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut, “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim. [1]

*Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup..*

Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata:

_“Barangsiapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama ahli dzikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.”_ [2]

Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini:

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

_Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, kepada Abu Tholib, “Wahai pamanku katakanlah laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”._

_Maka berkata, Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah, “Wahai Abu Thalib, apakah kam

u akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan kalimat syahadat kepada Abu Tholib dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah._

(HR. Bukhari no.1360 dan Muslim no.24)

*Akibat Maksiat dan Godaan Syaithon..*

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

_“Sesungguhnya dosa, maksiat dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya, ditambah lagi dengan godaan syaithon._

_Jika maksiat dan godaan syaithon terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam su’ul khotimah (akhir hidup yang jelek).”_ [3]

*Agar Selamat dari Su’ul Khotimah..*

Ibnu Katsir rahimahullah kembali melanjutkan penjelasannya:

_“Su’ul khotimah (akhir hidup yang jelek) -semoga Allah melindungi kita darinya- tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah._

_Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar bahwa orangnya mati dalam keadaan su’ul khotimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Su’ul khotimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya._

_Su’ul khotimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi sampai maut menjemput sebelum ia bertaubat.”_ [4]

Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah kami utarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan taubat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat.

Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertaubat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.

Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, su’ul khotimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.

__________
*Catatan kaki:*

[1] Kisah-kisah ini kami peroleh dari risalah mungil yang berjudul ‘Alamaatu Husnul Khotimah wa Su’uha, terbitan Darul Qosim.
[2] Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38.
[3] Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar).
[4] Idem.

*

✍ *Oleh:*
Ustadz M. Abduh Tuasikal, MSc

Sumber : https://rumaysho.com/1301-mati-suul-khotimah.html
...

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini dan tidak mengubah tulisan, semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
══════ ❁✿❁ ══════

📜◎❅ *CHANNEL MEDIA DAKWAH* ❅◎📜

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

🔄 YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCB9ABjFRN3ID-5h3TSKyRBQ

🌐 Telegram : t.me/MediaDakwah1

📷 Instagram : https://instagram.com/media_dakwah100?utm_source=ig_profile_share&igshid=i7xqlk6xz4ig

🗂 Group Facebook :  https://www.facebook.com/groups/1087352888095183/

📱 WhatSapp :  https://wa.me/6282220000672  (Admin)

︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼

📚 Kurikulum, Adab, Petuah Ulama, Tazkiyatun Nufus, Nasehat, Dll.
•┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈•

*📭 Share yuk*
*Semoga saudara-saudara kita mendapatkan faedah*

PINTU GERBANG KEMATIAN

*DI PINTU GERBANG KEMATIAN*

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

*Kematian* salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh Allah ta‘ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya.⁣⁣⁣

Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekali pun. Karena bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang dzalim dan jahil.⁣⁣⁣

Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya.⁣⁣⁣

Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis sejadi-jadinya.

Subhanallah..
Adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka? Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka penuh dosa.

Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya?
Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam?⁣⁣⁣

Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya lagi? Sampai kapankah kita jera?⁣⁣⁣

*****

✍ *Oleh:*
Ustadz Ari Wahyudi, S.Si. hafizhahullah
...

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•
♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini dan tidak mengubah tulisan, semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
══════ ❁✿❁ ══════

📜◎❅ *CHANNEL MEDIA DAKWAH* ❅◎📜

💠️ Facebook : fb.me/MediaDakwah100

🔄 YouTube : https://www.youtube.com/channel/UCB9ABjFRN3ID-5h3TSKyRBQ

🌐 Telegram : t.me/MediaDakwah1

📷 Instagram : https://instagram.com/media_dakwah100?utm_source=ig_profile_share&igshid=i7xqlk6xz4ig

📱 WhatSapp :  https://wa.me/6282220000672  (Admin)

︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼︼

📚 Kurikulum 8, Adab, Petuah Ulama, Tazkiyatun Nufus, Nasehat, Dll.
•┈┈•••○○❁🌿❁○○•••┈┈•

*📭 Share yuk*
*Semoga saudara-saudara kita mendapatkan faedah*